Bulan
Romadhon sejatinya adalah bulan tempat kita bisa mengintip surga.
Merasakan kedekatan dengan surga melalui amal-amal terbaik kita.
Pintu-pintunya pun terbuka. Bahkan syaitan sang penggoda harus diikat
kuat tak berkutik. Lalu tinggalah kader-kader syaitan dari jenis
manusia yang masih merajalela. Kita biasa menyebutnya dengan nafsu. Nah,
nafsu inilah –jika kita tidak hati-hati- akan merubah program romadhon
romantis kita berubah menjadi tidak keruan. Dari janji pahala menjadi
ancaman dosa. Dari mesra yang berpahala menjadi kemenangan sang
durjana.
Banyak produk-produk provokasi syetan yang difollow up dengan baik oleh
sang nafsu mampu menghancurkan pahala puasa kita. Yang paling semu
mungkin adalah ketika mesra kita justru ternoda dengan kata-kata kotor
dan keji. Bermesraan di siang Romadhan sungguh perlu intensitas
pengendalian diri yang cukup. Karena ketika mesra kita justru menjadi
parade kata-kata seronok dan vulgar, jangan ada sesal ketika lapar
dahaga kita menjadi tiada guna. Naudzu billah.
Dari Abu Hurairah ra : Rasulullah SAW bersabda : "Tidak puasa itu dari
(menahan) makan dan minum saja. Akan tetapi puasa dari hal yang sia-sia
dan kata-kata keji " (HR Ibnu Khuzaimah dan Hakim : Sohih dengan
syarat Muslim)
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : " Betapa banyak orang
yang berpuasa, tapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali hanya rasa
lapar. Dan betapa banyak orang yang sholat malam, tapi tidak
mendapatkan dari sholatnya kecuali hanya begadang " (HR Ibnu Majah,
Nisa'i, Hakim : Shohih dengan syarat Bukhori)
Produk provokasi setan yang lebih hebat lagi adalah ketika nafsu kita
begitu menggelora di siang ramadhan, lalu melampiaskannya begitu saja
pada sang istri trecinta. Akibatnya sungguh berbahaya. Serentetan
hukuman menunggu kita, jadi itu sangat menyulitkan dunia dan akhirat
kita. Ini bukan kasus baru, salah seorang sahabat ada yang jauh
keasyikan melampaui mesra hingga menjimak istrinya di siang ramadhan.
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Seseorang datang kepada Nabi SAW lalu
berkata : Sungguh celaka aku ya Rasulullah ! Beliau SAW berkata : Apa
yang membuatmu celaka ? Laki-laki itu menjawab : " Aku menjimak istriku
di siang romadhon " . Lalu Rasulullah SAW bersabda : " Apakah engkau
mempunyai sesuatu untuk membebaskan budak?" Ia menjawab : " Tidak". Nabi
bertanya kembali, " Apakah kamu mampu untuk berpuasa dua bulan
berturut-turut ? ". Ia menjawab ," Tidak". Kemudian ia duduk dan Nabi
datang dengan sekantung besar kurma,Beliau SAW bersabda : Bersedekahlah
dengan ini !. Laki-laki itu bertanya : " Apakah untuk yang paling
miskin di antara kami ? Tidaklah ada diantara penduduk kampung yang
lebih membutuhkan itu daripada kami ". Maka Nabi SAW pun tertawa hingga
terlihat gerahamnya, lalu beliau bersabda : Pergilah dan berilah makan
keluargamu ! " ( HR Jamaah)
Begitulah, kisah di atas menjadi semacam kontrol bagi kita, sebelum,
sesudah, dan ketika akan bermesraan di siang bolong ramadhan. Mesra
boleh saja, namun tolong secukupnya saja. Tidak bertaburan kata-kata
penuh berahi, apalagi dilakukan di atas ranjang dan kamar tertutup yang
berarorama wangi. Secukupnya saja, karena kita harus menyimpan energi
romantis kita untuk nanti selepas maghrib. Saat berbuka dan seterusnya
adalah momentum mesra yang sah-sah saja. Sebuah kemurahan Allah atas
fitrah kita yang selalu ingin mesra.
“ Dihalalkan bagi kamu pada malam
hari bulan Ramadhan bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka itu
adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah
mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan nafsumu. Karena itu Allah
mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu … “ (QS Al-Baqarah : 187)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar